Wednesday, July 22, 2009

Emotion, in Human and Non-Human Perspective (An Insight to Jakarta Bombing Incident)

The first alarm that occurred to me was my friend status at Facebook and then I checked it at news channel on television. Yes, it happened.. again.. the bombing incident at Jakarta. So let me send my deepest condolences to every victim and their relatives, friends, and colleagues.

It is very human to feel a surge of emotions at a time like this. My family, my friends, and a lot of people I met that day (Friday, July 17th 2009) felt a strong resentment to the culprit, sadness and pity to all the victims and their families. And for me, the first thing hit my emotion was emptiness, and then I felt a pity for the culprit and victims.

Well.. maybe it didn't happen in front of the door of my house, so I can say that I didn't feel any strong emotion that day. Yes.. I resent this kind of action, because I detest the idea to use destructive approach in solving problems rather than peaceful approach. But I just didn't feel any strong emotion. And maybe that it didn't happen in front of the door of my house, that I can think this incident thoroughly and logically. Well.. to be human maybe everyone is supposed to feel some kind of emotion at this incident. At first, I guess it would be appropriate, but not to dwell in it for all time. Given a bit more time, we should assess the thing that happened more logically, more coldly, not emotionally.

Well, I guess almost everyone detest the culprit.. and naturally we direct our anger and resentment towards them. Is it really good when we do this?? I believe that the culprit have a strong reason behind the action. And because of that, I think it would be unfair if we direct our anger and resentment towards the culprit; to be fair maybe we should direct our emotions to the cause of their action. When everyone get a long and lot of pressure, he/she could be exploded. And at this time, the explosion came true at the incident 5 days ago.

What the cause of their action then?? Given the culprit haven't been identified yet and very little information that I have, it will be safe for me to say that I don't know the cause, though I can conjure 1 or 2 theories about the causes. But I have a good quotation about this, from Watchmen (a really good superhero film), spoken by a favourite character of mine, Rorschach:

God doesn't make the world this way.
We do.

So should we put our anger and resentment to ourselves??

From the news, the victims of this incident are 62 people (including 9 died). Bombing incidents are only occurred once a while (about once a year maybe), but poverty and famine still spread widely around the world.. everyday. And everyday almost 16000 children die from hunger-related causes--one child every five seconds (see this), but strangely we mourn more deeply at the bombing incident rather that the famine problem. Are we, human, a strange and illogical creature?? Or, maybe we just love the drama and want to shut off everything that happened and beyond our comprehension..

So what should we do now?? Remember what Rorschach say:

God doesn't make the world this way.
We do.

Maybe we should do everything we can to make this world a better place. But we also should aware that we treat everyone fairly and equally. But even always put this two things always on our mind, maybe sometime, somehow, we treat someone unfairly and unequally. Maybe we should pray that God will help us with our action.

And last, but not least is a question: "Is logic better then emotion??" In my opinion, no it isn't. Because I believe we always should search for a balance point, a harmony in almost every aspect of our live. So think with our mind, and feel with our heart. And hope that our quest for harmony will bring peace on earth.



May the best thing happen to every victim of the Jakarta bombing and every single person that is suffering in the world.
May every single person that alive works together, for a better place, for a peace on earth.


Side Note:
Image courtesy:

Monday, July 06, 2009

Saatnya Membuat Pilihan

Dua hari lagi.. ya dua hari lagi adalah hari rakyat Indonesia membuat pilihan.. pilihan yang menentukan pemimpin negara ini untuk lima tahun ke depan. Sudah siapkah kita memilih?? Mari.. sebelum menjawabnya, mari kita tengok dulu beberapa hal.

Pertama.. mari kita soroti KPU. Lagi-lagi, sebagai lembaga yang bertugas menyelengarakan Pemilu di Indonesia, KPU seperti kehilangan taring dalam menghadapi berbagai macam pelanggaran kampanye yang terjadi. Saya lagi-lagi hanya melihat pelanggaran ini didaftarkan tetapi tidak ada tindak lanjut dari setiap pelanggaran kampanye yang ada. Kemudian DPT pun lagi-lagi bermasalah, karena masih banyak rakyat yang belum terdaftar dan juga ada yang terdaftar ganda.

Mengenai masalah DPT, berita mengenai konferensi pers kemarin malam cukup mengejutkan walaupun telah saya perkirakan juga akan terjadi. Saya kira berita ini cukup mengesalkan juga. Saya heran dengan pihak-pihak yang belum puas dengan DPT, tetapi baru menyampaikan permasalahan DPT ini tiga hari menjelang Pemilu. Seperti yang saya dengar pada siaran langsung konferensi pers tersebut, mereka mengatakan bahwa sudah ada data mengenai pemilih yang belum terdaftar dan pemilih yang terdaftar ganda. Spontan saya bertanya dalam hati.. "Lah.. bagaimana Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu ini.. Katanya sudah punya datanya, lalu mengapa baru sekarang melayangkan protesnya?? Bukankah langkah terbaik adalah Anda-Anda sekalian proaktif dalam menyelesaikan masalah DPT ini?? Lagipula bukankah KPU sudah mengeluarkan DPT ini sejak sekitar 1 bulan yang lalu??"

Konferensi pers semalam hanya memperkuat penilaian saya akan satu hal, yaitu sebagian besar rakyat Indonesia belum dewasa dalam berpolitik. Maafkan saya jika saya terkesan melebih-lebihkan dan terlebih lagi penilaian saya ini tidak berdasarkan suatu studi formal, melainkan hanya merupakan perkiraan kasar saja.

Bukankah kita sebagai pemilih selalu dipuja-puji oleh para politikus, atau pengamat politik, atau siapapun.. bahwa kita sudah lebih cerdas dalam menggunakan hak pilih kita?? Seharusnya kita jangan terlena dengan pujian ini dan ada patutnya kita bertanya.. Sudah seberapa cerdaskah kita?? Apa tolok ukurnya?? Dan satu hal yang jangan terluapakan, seperti yang sudah tertulis di atas.. Sudah dewasakah kita dalam berpolitik??

Seperti yang saya singgung dalam tulisan saya sebelumnya.. adalah kita sebagai makhluk sosial sulit melepaskan diri dari kegiatan politik. Menggunakan hak pilih ini menurut saya termasuk pula ke dalam kegiatan politik. Nah untuk saat ini mari kita nilai diri kita sendiri.. Apakah kita sudah dewasa dalam berpolitik?? Maka, menurut saya hal yang perlu kita ingat dalam menggunakan hak pilih kita adalah kita harus cerdas dan dewasa. Menggunakan hak pilih dengan cerdas dan dewasa, menurut saya, berarti menggunakan hak pilih dengan mempunyai pertimbangan dan alasan yang kuat. Tidak memilih pun baik.. asalkan dengan pertimbangan dan alasan yang kuat. Jadi sudah cerdas dan dewasakah kita??

Dan mari kita teropong ke masa depan.. Sebetulnya saya masih kecewa dengan iklim demokrasi Indonesia yang belum cerdas dan belum dewasa. Debat politik terasa hambar.. tidak ada argumentasi.. solusi yang ditawarkan mengambang, tidak konkret.. dan lain sebagainya.. Karena itu, ada baiknya kita terus belajar dan mau memperbaiki diri demi masa depan yang lebih baik. Dan saya kira dengan semakin cerdas dan dewasanya kita, tentunya iklim demokrasi Indonesia pun akan semakin baik. Dan.. bukankah kita masih bisa berharap demi masa depan yang lebih baik??

Maka.. sambutlah pesta demokrasi kita.. sambutlah dua hari mendatang, dengan kecerdasan dan kedewasaan..

Sudah siapkah kita membuat pilihan??

Sudah siapkah kita membuat pilihan dengan cerdas dan dewasa??

Catatan:
Gambar diambil dari: www.40kradio.com