Bandung, 22 Maret 2007
Kepada,
Yang terhormat para yang mulia wakil rakyat Indonesia
Salam terhormat dan tersayang saya sampaikan untuk para yang mulia wakil rakyat tercinta yang sedang berkarya dan berjerih payah untuk turut membangun negeri tercinta Indonesia. Mungkin para yang mulia wakil rakyat yang telah dan sedang mengenyam nikmatnya kursi dewan tidak mengenal saya sama sekali. Saya hanya salah satu dari rakyat Indonesia, berasal dari kalangan pemuda, yang bersama-sama dengan seluruh lapisan masyarakat dari hulu tertinggi hingga hilir terendah menyumbangkan keringat, air mata, dan darah untuk kenyamanan kursi para yang mulia. Saya sungguh berharap dari lubuk hati terdalam bahwa pengorbanan kami semua tidak akan pernah sia-sia, karena dapat menopang nikmatnya duduk di atas kursi dewan selama masa jabatan para yang mulia wakil rakyat.
Para yang mulia wakil rakyat, saya dengan penuh kesadaran mengakui bahwa diri ini sungguh bodoh, naif, dan kurang ditempa panas dinginnya alam. Tapi perkenankanlah saya, yang sangat jauh dari posisi nun jauh sempurna yang mulia wakil rakyat sekalian, untuk sekedar memberikan sebutir sumbangsih pemikiran, walaupun saya tahu bahwa gagasan ini akan langsung terlempar ke dalam tong sampah dewan saat tiba di mata, telinga, lidah, kulit, hidung, hati, pikiran, dan jiwa para yang mulia. Tapi tetap, saya memohon dengan penuh kerendahan hati agar gagasan saya didengar dahulu seutuhnya sebelum dicampakkan dan bergabung dengan kumpulan limbah lainnya. Saya sungguh tidak memiliki hati setangguh karang, sehingga selalu menangis, terluka, dan terkoyak dalam diri saya untuk setiap bencana di tanah air tercinta ini. Asa yang sangat lemah daripada yang mulia wakil rakyat ini selalu berteriak dan berteriak untuk memberikan segala cucuran air mata, keringat, darah, dan doa untuk membantu setiap sanak saudara terkasih di seluruh pelosok Indonesia. Tapi sekali lagi saya yakin, walaupun saya selalu berusaha sekuat tenaga membantu, para yang mulia wakil rakyat tentu mempunyai tekad baja dan pemikiran mutakhir untuk tidak turun berderma pada saudara-saudara tercinta.
Para yang mulia wakil rakyat, yang sedikit terpilih dari ratus juta penduduk Indonesia untuk mengemban suara kami dan menjadi pemimpin, tentu tidak dapat dibandingkan sama sekali dengan saya yang belum kenyang makan timbunan asam garam dunia, ilmu kemoralan, agama, politik, sains, manajemen, bisnis, pendidikan, ekonomi, dan lain sebagainya. Saya yang berasal dari kalangan terpinggirkan ini tentu tidak mempunyai visi setajam dan sekuat para yang mulia wakil rakyat. Dari sisi manapun melihat, saya selalu berpikiran bahwa banyak anggaran tidak penting dan tidak signifikan yang telah digunakan para yang mulia wakil rakyat. Saya selalu berpikir bahwa ada baiknya anggaran tersebut dialihkan untuk pendidikan dan kesehatan rakyat, untuk kepentingan masyarakat Indonesia. Tapi berkali-kali pun tetap saya yakin bahwa para yang mulia wakil rakyat mempunyai visi seindah berlian untuk masa depan Indonesia. Sebuah laptop tentu akan membantu kinerja para yang mulia wakil rakyat dalam 50 tahun ke depan dan memajukan Indonesia dalam 100 tahun ke depan, sedangkan bagi saya terlihat tetap lebih penting program satu buah laptop untuk seorang siswa. Tapi sepertinya ada secercah terobosan dalam otak saya, karena saya merasa para yang mulia wakil rakyat berusaha merubah stigma 4D yang telah mengakar dari "Datang, Duduk, Diam, Duit" menjadi "Datang, Duduk, Download, Duit". Izinkanlah saya sedikit berbangga atas kemajuan pola pikir ini, tetapi tetaplah berhati-hati para yang mulia wakil rakyat, agar tidak terulang kembali peristiwa penyebaran materi pornografi di kalangan anggota dewan yang telah terjadi beberapa saat lalu dan sangat terkenal itu.
Demikianlah sedikit gagasan dari saya untuk para yang mulia wakil rakyat. Tetapi izinkanlah saya memohon agar para yang mulia wakil rakyat tetap berkenan membaca hingga akhir tulisan saya ini. Para yang mulia wakil rakyat, selalu dengan tekun saya menempa pikiran dan hati, jiwa dan raga, jasmani dan mental diri ini demi kemajuan diri dan bangsa dan tanah air. Tetapi hingga saat ini, hasilnya adalah hati yang lemah dan visi yang tumpul. Karena itulah saya mohon sumbangsih saran dari para yang mulia wakil rakyat untuk diri saya yang bodoh ini agar dapat sedikit melangkah dan mendekat posisi nun sempurna tersebut. Sangatlah berterima kasih saya jika para yang mulia wakil rakyat rela membagi rahasia tersebut. Akhir kata, saya ingin berharap agar seluruh semangat, cinta, kasih, dan keringat yang saya kerahkan untuk membuat tulisan ini tidak berakhir dengan tepukan sebelah tangan. Sambutan tepukan dari telapak tangan para yang mulia wakil rakyat selalu saya nantikan dengan penuh kesabaran. Terima kasih yang sangat terdalam dan terluhur saya panjatkan kepada para yang mulia wakil rakyat Indonesia atas kesediaannya membaca tulisan ini hingga akhir. Semoga Indonesia terus berjaya dan para yang mulia wakil rakyat akan tetap nyaman duduk di atas kursi dewan selama masa jabatannya. Merdeka!
Hormat saya,
Saya, seorang dari kalangan pemuda terpinggirkan Indonesia